PENTING !

Harry Benjamin's Syndrome sesuai dengan peraturan standar internasional, harus dinyatakan oleh 2 orang psikiater atau 1 orang psikiater dengan 1 orang dokter. Tidak ada Jalan Pintas dalam berjalan dengan Harry Benjamin's Syndrome. Untuk bergabung dengan Support Grup dan mengetahui para ahli-ahli medis yang kami rekomendasikan, anda dapat menghubungi kami lewat Email : HBS.Indonesia@gmail.com.

Minggu, 22 April 2012

Pernyataan Saksi Ahli mengenai Harry Benjamin's Syndrome


1. Surat pernyataan hukum secara sah ini dibuat oleh Profesor Louis Gooren dari Rumah Sakit Universitas Free, Amsterdam, Belanda.

2. Dilahirkan pada tahun 1943, saya adalah dokter spesialis bidang Endokrinologi. Dalam bidang ini, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan gangguan diferensiansi seksual serta proses menjadi lelaki atau perempuan merupakan fokus kerja saya. Pada tahun 1988, saya dikukuhkan sebagai Profesor dan ditugaskan untuk menangani para pasien yang mengalami permasalahan identitas gender sebagaimana para pasien dengan gangguan diferensiasi seksual (interseks) yang membutuhkan intervensi medis-operasi. Lebih dari 24 tahun saya telah bekerja di Klinik Gender di Rumah Sakit Universitas tempat kerja saya, yang menerina sekitar 150 pasien baru setiap tahunnya. Kira-kira 80-90 dari mereka menerima terapi hormon aktual dan operasi. Saya telah secara ektensif mempublikasikan hal ini serta memperoleh pengakuan profesional secara internasional. Belakangan ini, Lembaga-lembaga dari Dewan Eropa mengundang saya untuk memberikan keahlian saya di bidang permasalahan gender.  

3. Gender Identity Disorder (= Gangguan Identitas Gender atau transseksual) adalah kondisi medis dan dari ranah kerja saya serta dari penelitian dalam bidang ini, sekarang saya yakin bahwa kondisi transseksual merupakan gangguan diferensiasi seksual: proses menjadi lelaki atau perempuan sebagaimana yang kita kenal secara konvensional selama ini.

4. Secara tradisional, diasumsikan bahwa diferensiasi seksual, yaitu proses menjadi lelaki atau perempuan, telah komplit dengan terbentuknya alat kelamin luar (genitalia) –suatu kriteria yang digunakan untuk menunjuk apakah jenis kelamin bayi yang baru saja lahir laki-laki atau perempuan. Sejak awal abad ini, telah jelas di dalam penelitian laboratorium terhadap binatang bahwa ini bukanlah titik akhir dari proses diferensiasi seksual, melainkan otak juga mengalami diferensiasi seksual menjadi lelaki dan perempuan, yang utamanya memprediksi atau berkorelasi dengan perilaku seksual dan non-seksual di masa mendatang.

5. Proses diferensiasi seksual terjadi dalam langkah-langkah yang berbeda: pertama konfigurasi kromosom terbentuk, kemudian diferensiasi gonadal, berikutnya diferensiasi alat kelamin luar dan dalam, dan yang terakhir diferensiasi otak menjadi lelaki atau perempuan.


6. Normalnya, semua langkah dalam proses diferensiasi seksual bersesuaian (untuk laki-laki, pola kromosom XY, testis, alat kelamin luar dan dalam jantan serta diferensiasi otak laki-laki menjadi penentu perilaku jenis lelaki; untuk perempuan, pola kromosom XX, indung telur, alat kelamin luar dan dalam betina serta diferensiasi otak perempuan yang menjadi penentu perilaku jenis perempuan).

7. Sesungguhnya, di dalam beberapa species mamalia, proses diferensiasi seksual otak terjadi setelah kelahiran. Swaab dan Hofman telah memperlihatkan bahwa bagian struktur otak tersebut –yang berbeda antara lelaki dan perempuan– menjadi benar-benar dimorfik secara seksual antara umur 2 (dua) sampai 4 (empat) tahun;  tentu, setelah kelahiran dan jauh setelah penentuan jenis kelamin lelaki atau perempuan dilakukan. Alam tidaklah luput dari kekeliruan tak terkecuali proses diferensiasi seksual. Terdapat manusia-manusia yang tidak semua kriteria seksualnya terpenuhi secara bersesuaian. Mereka mungkin memiliki beberapa cirri biologis dari jenis kelamin yang satu dan beberapa lagi yang lainnya, suatu kondisi yang kita kenal sebagai interseks.

8. Kondisi manusia mensyaratkan bahwa bayi-bayi yang baru lahir ditentukan jenis kelaminnya sebagai ini atau itu. Sistem kemasyarakatan dan hukum sama-sekali telah tak menyisakan ruang bagi orang-orang dengan kondisi interseks ini. Jika seorang bayi yang baru saja lahir terlihat mengalami kondisi interseks, keputusan medis kemudian harus diambil untuk menentukan apakah bayi ini lelaki atau perempuan. Dewasa ini praktek medis telah diterima secara umum untuk menentukan jenis kelaminnya –di mana anak yang tak beruntung ini, dengan dasar keahlian medis serta harapan yang realistis– akan berfungsi dengan baik. Dengan catatan, bahwa cirri-ciri biologis tidak jelas saat proses keputusan diambil. Keputusan ini diambil bedasarkan ramalan terhadap fungsi seksual dan non-seksual masa depannya. Sistem hukum mencatat bayi-bayi yang baru lahir ini sesuai dengan keputusan medis. Jadi, tak dapat dipertahankan lagi klaim bahwa kriteria gonadal atau genetik menentukan status seseorang sebagai lelaki atau perempuan karena sebetulnya penentuannya dilakukan setelah ada intervensi medis.

9. Beberapa kondisi interseks merupakan kondisi-kondisi yang bahkan sama-sekali tak bisa ditentukan pada saat kelahirannya dan hanya ditemukan jauh hari setelah mereka berada di dalam masa pubertas. Demikianlah sebagian dari sesama kita menjalani kehidupan (tak diketahui oleh siapa pun kecuali oleh para dokter mereka) di mana mereka merupakan perempuan tetapi dengan testis atau pola kromosom lelaki tipe XY dan sebaliknya merupakan lelaki tetapi dengan ovarium atau pola kromosom XX.

10. Dalam dunia binatang ataupun manusia, saat ini diferensiasi otak seksual dan non-seksual diterima sebagai bagian dari proses menjadi lelaki atau perempuan. Dalam eksperimen dengan binatang, sangat mudah kemungkinannya untuk melakukan penentuan perilaku seksual dan non-seksual jenis betina binatang-binatang yang mempunyai pola utuh jantan –hingga mencapai tahap akhir diferensiasi seksual, dan begitu juga sebaliknhya. Tergantung pada jenis manipulasi yang dipakai di dalam eksperimen dengan hewan tersebut, perilaku jenis-antara juga dapat diamati. Pada dasar penemuan penelitian ini, diambil hipotesa bahwa yang terjadi pada orang dengan permasalahan identitas gender adalah bahwa diferensiasi otak mereka tidak mengikuti pola yang biasanya diprediksi pada tahap-tahap sebelumnya dalam proses diferensiasi seksual (seperti kromosom, gonad, dan alat kelamin) tetapi di tahap terakhir proses diferensiasi seksual bagian otaknya tersebut justru mengikuti pola tipikal dari jenis kelamin kebalikannya –sebagaimana diindikasikan di atas– suatu situasi yang dapat diteliti dalam laboratorium binatang dengan manipulasi eksperimental.

11. Generalisasi prinsip biologis antara anggota spesies mamalia yang berbeda harus dilakukan dengan peringatan keras, tetapi hal itu tak dapat diabaikan sepenuhnya. Obat-obatan yang ditemukan lewat penelitian dengan hewan telah sangat berkembang sehingga dapat digunakan untuk manusia. Validitas ekstrapolasi proses diferensiasi seksual otak yang terjadi pada hewan mamalia hingga manusia telah dikuatkan oleh penemuan-penemuan perbedaan anatomis dan fungsional otak antara lelaki dan perempuan, termasuk dalam spesies manusia. Koleksi data yang dikumpulkan dalam penelitian dengan manusia telah dan masih sangat lambat terkait pembatasan etis yang ada dalam pemgumpulan otak manusia sebagai bahan penelitian.

12. Menariknya, Zhou, Swaab, Gooren & Hofman mempublikasikan sebuah laporan ilmiah pada tahun 1995 yang mampu memperlihatkan bahwa di dalam salah satu struktur otak manusia yang berbeda antara lelaki dan perempuan  –pola perempuan sungguh-sungguh ditemukan di dalam otak transseksual male-to-female. Mereka mampu menunjukkan bahwa hal ini terjadi bukan karena penanganan hormon seks-lawan yang diberikan sebelumnya kepada transseksual itu. Penemuan-penemuan ini memperlihatakan bahwa struktur biologis di dalam otaklah yang membedakan transseksual male-to-female dari laki-laki. Penemuan-penemuan tersebut dipublikasikan di dalam jurnal ilmiah terkenal (Nature) dengan proses kajian ilmiah sangat teliti yang tidak akan mentoleransi bias ilmiah esensial yang mungkin terjadi di dalam rancangan dan interpretasi eksperimen tersebut.

13. Kesimpulan: Karena adanya fakta bahwa diferensiasi seksual otak dalam manusia terjadi (juga) setelah kelahiran, tak dapat dihindari bahwa orang-orang dengan kesalahan diferensiasi seksual otak memiliki pembentukan seks yang terjadi setelah kelahiran, kadangkala jauh setelah kehidupan mereka berjalan disebabkan oleh dibutuhkannya masa hidup dan pengalaman yang panjang untuk bisa menemukan berbahayanya terlahir dalam kelamin yang salah –dengan kata lain, memiliki pola otak seksual dan non-seksual yang kontradiktif dengan cirri-ciri seks lainnya.

Sebagaimana orang-orang lain yang juga menderita dalam proses diferensiasi seksual ini, orang-oang yang terlahir transseksual membutuhkan rehabilitasi medis sehingga mereka dapat menjalani hidup sebagai lelaki atau perempuan. Keputusan ini tidaklah amat berbeda dengan yang dibuat dalam kasus-kasus anak-anak interseks di mana penentuan seksnya ditentukan agar nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik di dalam masyarakat. Dalam kasus anak interseks, seringkali mungkin dikatakan saat kelahiran bahwa proses diferensiasi seksualnya belum terjadi secara konvensional sehingga dimungkinkan untuk membuat keputusan menjalani penyesuaian kelamin melalui intervensi medis tepat setelah kelahiran… Keputusan untuk merekomendasikan penanganan hormonal dan operasi bagi orang yang terlahir transseksual dilakukan jauh setelah ia menjalani kehidupannya dan berdasarkan pada kesimpulan proses diagnostik kejiwaan menyeluruh bahwa telah terjadi gangguan dalam proses diferensiasi seksual serta bahwa orang tersebut akan memperoleh manfaat dari terapi hormon dan operasi penyesuaian kelamin. Tak pernah ada ketidak-setujuan bahwa biaya operasi tersebut akan ditanggung oleh asuransi kesehatan yang relevan.  



Pernyataan saksi ahli ini telah diberikan kepada Pengadilan Tinggi dalam Kasus Elizabeth Bellinger (lihat halaman 39, Lampiran 4 dari "Recognising the Identity and Rights of Transsexual and Transgender People in the United Kingdom" [= “Mengenali Identitas dan Hak-hak Kaum Transseksual dan Transgender di Inggris”]. Press For Change 1999).

Diperbarui terakhir: 28 Januari 2003Diterjemahkan oleh Prabha Mahojjwala: 23 Januari 2012

Hak Cipta Terjemahan ©1/2012

1 komentar:

  1. Informasi yang sangat bermanfaat dan bisa membuka wawasan kita terhadap masalah yang selama ini jarang sekali dibahas atau malah dianggap tabu untuk dibicarakan. Semoga dengan adanya informasi-informasi dalam blog ini bisa sedikit demi sedikit mengubah sudut pandang kita tehadap sesama kita yang mengalaminya dan hidup dalam penolakan oleh lingkungan di sekitarnya.. Terima kasih

    BalasHapus