PENTING !

Harry Benjamin's Syndrome sesuai dengan peraturan standar internasional, harus dinyatakan oleh 2 orang psikiater atau 1 orang psikiater dengan 1 orang dokter. Tidak ada Jalan Pintas dalam berjalan dengan Harry Benjamin's Syndrome. Untuk bergabung dengan Support Grup dan mengetahui para ahli-ahli medis yang kami rekomendasikan, anda dapat menghubungi kami lewat Email : HBS.Indonesia@gmail.com.

Selasa, 10 Januari 2012

Dari Transseksualisme ke Harry Benjamin’s Syndrome


Istilah transseksualisme pertama kali diperkenalkan di kalangan kedokteran pada tahun 1950-an oleh Dokter Harry Benjamin, seorang pelopor dalam riset mengenai kondisi ini, yang mendukung penjelasan biologis walaupun terdapat kesulitan dalam menemukannya. Pada masa-masa itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk membedakan kondisi ini dari transvestisme dan homoseksualisme. Istilah transseksualisme tampaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diberikan dalam kegelapan ilmiah tak terusik di sekeliling kondisi ini, dan kemudian mereka mulai mempercakapkan trasseksual untuk pertama kalinya. 

Di luar itu, Transseksualisme saat itu dipandang sebagai kondisi psikiatris di mana seseorang merasa bahwa dirinya memiliki jenis kelamin sebaliknya. Kondisi ini pada masa itu tampak sebagai kondisi psikologis belaka atau malahan “tak terjelaskan”. (Lihat contoh karya Caulwell: Psychopatia Transexualis, 1949)


Namun demikian. Setelah riset yang lebih mendalam dilakukan pada dua dekade terakhir ini tentang kondisi tadi, ditemukan bahwa ini bukanlah kondisi yang berbasis psikologis sehingga dewasa ini istilah transseksualisme bahkan telah jadi usang dan tak cukup lagi untuk menggambarkannya.

Dewasa ini kita mengerti bahwa apa yang dahulu dikenal sebagai transseksualisme sebetulnya bukanlah kondisi psikologis melainkan hal tersebut berhubungan erat dengan pola neurologis atau syaraf. Kaum transseksual atau orang-orang yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome sudah memiliki otak yang selalu menentukan bagaimana atau di mana seharusnya jenis kelamin mereka. Penelitian-penelitian mutakhir juga menunjukkan bahwa jenis kelamin otak adalah apa yang menentukan jenis kelamin seseorang yang sesungguhnya; sehingga seseorang yang dilahirkan dengan kondisi Harry Benjamin’s Syndrome memang sudah merupakan anggota dari “jenis kelamin kebalikan”-nya. Isitlah transseksualime kemudian menjadi usang karena tak ada perubahan kelamin akan tetapi yang dilakukan justru operasi korektif. Mereka yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome secara biologis sudah merupakan bagian dari jenis kelamin yang mereka rasakan karena “brain sex” dan struktur syaraf neurologis mereka sudah cocok dengan identitas gender mereka. Apa yang terjadi adalah bahwa pola-pola neurologis otak mereka merupakan kebalikan dari alat kelamin mereka. (Lihat Dokumnetasi Medis terkait).


Kondisi “Transseksualisme” di masa lalu pada kenyataannya adalah kondisi intersex di mana “brain sex” tidak cocok dengan alat kelamin. Sifat dari kondisi ini adalah neurologis, bukan psikologis sebagaimana yang diyakini di masa lalu. Konsekuensinya, kita tak dapat membicarakan tentang Transseksualisme (atau yang di masa sekarang namanya adalah Harry Benjamin’s Syndrome) dengan menganggapnya sebagai orientasi atau ciri kepribadian pribadi, melainkan hanya sebagai kondisi fisiologis saja yang membutuhkan diagnosa serta penanganan dini.


Beberapa kekacauan “mental” yang telah sekian lamanya ditetapkan sebagai Schizophrenia atau Manic-depressive saat ini pun BUKAN lagi tampak sebagai kekacauan “mental” tetapi sebagai penyakit-penyakit otak, seperti halnya Parkinson atau pun Alzhemeir yang juga merupakan penyakit-penyakit otak. Dalam sudut pandang yang sama, Harry Benjamin’s Syndrome (yang dulu disebut Transseksualisme) saat ini pun tak dilihat lagi sebagai penyakit “mental”.Para ahli terkenal dunia di bidang ini sudah menetapkannya sebagai salah satu dari sekian banyak ragam biologis yang terjadi di dalam pembentukan seks manusia, yaitu kondisi intersex, di mana seks yang diindikasikan oleh fenotip dan genotip berbalikan dengan seks morfologis otak.

Label lama “Transseksualisme” secara mendesak perlu segera diubah dengan istilah yang tepat dan label lama di masa lalu beserta takhyul yang menyertainya perlu segera ditanggalkan juga. Terdapat banyak sekali stigma, kenegatifan, takhyul, puluhan tahun caci-maki media dan kekeliruan penanganan kedokteran  yang dilekatkan terhadap kata Transseksualisme, terlepas dari tak memadainya istilah tersebut dalam menjelaskan kondisi ini. Maka istilah ini sungguh-sungguh mendesak untuk segera diganti dengan istilah yang lebih tepat. Pengetahuan kontemporer tentang kondisi ini pun butuh segera diperbarui. Sensasi dan informasi menyesatkan yang berulang-ulang dari media-massa tentang subjek ini harus segera dihentikan.
 




Oleh: Charlotte T.GA. dan Melanie l'Heuremaudit
Diterjemahkan oleh: Prabha Mahojjwala 
Hak Cipta Terjemahan © I/2012 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar