PENTING !

Harry Benjamin's Syndrome sesuai dengan peraturan standar internasional, harus dinyatakan oleh 2 orang psikiater atau 1 orang psikiater dengan 1 orang dokter. Tidak ada Jalan Pintas dalam berjalan dengan Harry Benjamin's Syndrome. Untuk bergabung dengan Support Grup dan mengetahui para ahli-ahli medis yang kami rekomendasikan, anda dapat menghubungi kami lewat Email : HBS.Indonesia@gmail.com.

Selasa, 10 Januari 2012

Masalah Peristilahan (Kesalahan Pemahaman)

Peristilahan mungkin merupakan masalah terbesar yang perlu segera diatasi oleh orang-orang yang terlahir dengan kondisi Harry Benjamin’s Syndrome sebagai sebuah kelompok.  Ini tentang identitas kelompok kita, tentang Siapa diri kita, Bagaimana kita menyebut diri kita, Bagaimana kita menganggap diri kita dan Bagaimana kita memperkenalkan diri kita kepada orang lain; sebab untuk mencapai asimilasi sosial sepenuhnya, pertama-tama kita perlu menegaskan identitas kita sebagai sebuah kelompok dan melakukannya.  Dan peristilahan adalah faktor kunci yang menentukan. Dewasa ini terlalu banyak istilah yang tidak tepat digunakan untuk menunjuk kondisi ini maupun menunjuk orang-orang yang menderita karenanya.  Meski tampaknya istilah-istilah tersebut benar di masa lampau, sebetulnya istilah-istilah tadi sudah using di masa kini. Sekarang ini orang hanya memilih sebuah istilah yang lebih mereka sukai untuk digunakan di saat yang diberikan, atau bahkan seluruh jenis media massa menggunakan beberapa istilah berbeda secara serentak sebagaimana yang kita lihat dalam beberapa artikel atau publikasi berbeda terkait dengan Harry Benjamin’s Syndrome. Ini bukanlah hal yang serius dan tak terfokus pada semua kondisi, juga tak terjadi terhadap kondisi medis lainnya.  Namun demikian, istilah-istilah yang saat ini digunakan sungguh-sungguh tidak tepat dan berbahaya.



Sehingga, kita perlu mempertimbangakan penggunaan istilah berikut ini:


a.  "Harry Benjamin's Syndrome"

Istilah Harry Benjamin’s Syndrome diambil dari nama Dr. Harry Benjamin, seorang pelopor dalam riset mengenai kondisi ini. Namanya juga digunakan oleh Asosiasi Gender Disforia Internasional Harry Benjamin (HBIGDA = Harry Benjamin International Gender Dysphoria Association yang sekarang bernama WPATH), yang membuat Standard Perawatan yang dipakai secara internasional bagi mereka yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome. Di luar istilah-istilah lainnya, saat ini “Harry Benjamin’s Syndrome menjadi istilah pilihan yang meningkat popularitas penggunaannya dan menyebar ke mana-mana bagi mereka yang tahu kondisi ini. Harry Benjamin’s Syndrome jauh lebih disukai daripada istilah-istilah lainnya yang telah ada karena istilah ini tidak memiliki konotasi yang menyesatkan maupun arti yang sekaligus tidak tepat

b.  "Transsexualism/ Transsexual(s)"

 Istilah yang paling terkenal bagi Harry Benjamin’s Syndrome adalah Transseksualisme (diciptakan oleh Dr. Harry Benjamin pada tahun 1950-an).  Sayangnya, terdapat banyak masalah dalam istilah ini.  Secara sederhana memasukkan kata “sex” di dalam nama ini menarik perhatian yang justru tak diinginkan, pun kata ini dengan kuat menyiratkan adanya hubungan dengan orientasi seksual yang sebetulnya tak ada sama sekali dalam hal ini. Kata ini terlalu menyerupai kata “transvestisme”: fenomena yang sungguh sangat tidak ada kaitannya dengan kondisi Harry Benjamin’s Syndrome (lelaki yang merasa nikmat mengenakan baju perempuan sama sekali berbeda dengan lelaki yang dilahirkan dengan anatomi tubuh perempuan sehingga sangat tidak bahagia karenanya). Kata ini mengandung cukup persamaan di permukaan dengan transvestisme yang menyebabkan banyaknya kebingungan. Tambahan lagi, memberi label penderita Harry Benjamin’s Syndrome dengan istilah “transseksual” merupakan tindakan buruk.  Menyebut bahwa seseorang adalah transseksual merupakan tindakan dehumanisasi atau tidak memanusiakan manusia sehingga menyebabkan mudah tergelincirnya anggapan bahwa orang tersebut adalah “liyan” (orang yang berbeda). Mereka yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome adalah orang-orang yang memiliki masalah medis khusus; ini bukanlah identitas mereka, pun mereka bukanlah contoh dari kondisi ini. Digunakannya kata transseksual sebagai kata sifat juga tidak menjadikannya jauh lebih baik. Dengan menyebut “lelaki transseksual” atau “perempuan transseksual”, kata “transseksual” jadi terlalu mudah untuk diinterpretasikan sebagai “pura-pura”; dan atas beberapa alasan, banyak orang awam tampaknya jadi bingung apakah kata benda yang tepat bagi seorang individu tertentu adalah “lelaki” atau “perempuan”.

Setelah dibesarkan dengan peran gender yang keliru serta melalui kebingungan emosi yang menumpuk di masa lalunya, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome adalah meraih keseimbangan psiko-fisik dan memperbaikinya: Menegaskan kembali identitas gendernya, mengoreksi tubuhnya, dan meninggalkan seluruh ambiguitas atau ketidak-jelasan yang dimiliki di masa lalunya.  Sungguh kejamlah jika kemudian orang ini tetap dipaksa untuk menyandang label “transseksual” hingga akhir hayatnya, memaksanya menyandang kata itu sebagai bagian dari identitas dirinya, sebab kenyataannya orang ini tidaklah mengubah alat kelaminnya secara terus-menerus atau berada di dalam masa transisi yang tak pernah selesai atau hidup dari waktu ke waktu serentak di antara kedua gendernya…  Jadi, inilah makna gamblang (dan yang tanpa disadari menyiratkan) istilah transseksual. Ketika kita menyebut seseorang “transseksual” atau “lelaki atau perempuan transseksual”, kita sedang memaksakan kehendak bahwa “kelaminnya sekarang” bukanlah “kelamin tulen yang asli”; tak peduli seganteng atau secantik apapun orang itu, atau sebahagia apapun ia dalam hidupnya setelah menjalani koreksi fisik Harry Benjamin’s Syndrome. Dengan selalu menyebut orang tersebut transseksual, ketidak-jelasan masa lalunya, “periode transisi”nya, kenangan-kenangannya, semua “tanda” psiko-fisik dari “kelamin asli”-nya serta seluruh kebingungannya dikuak dan dikorek-korek lagi sekarang –di mana tentu saja, dalam kebanyakan kasus, ini merupakan sumber perasaan tidak nyaman karena label tersebut dilekatkan lagi dan lagi kepada identitas dirinya. Dan itu dipaksakan menjadi identitas orang tersebut –yang kemudian menganggap dirinya adalah seorang “lelaki atau perempuan transseksual” dibanding memperlakukkan dirinya hanya sebagai seorang lelaki atau seorang perempuan saja, tak lebih – tak kurang, tanpa embel-embel. Bagaimanapun juga, semuanya itu tidaklah memadai karena sifat dari kondisi ini bukanlah transseksual melainkan interseksual, dan sekarang, ini sangat mungkin untuk dikoreksi secara menyeluruh. 


Harry Benjamin menulis:


“… istilah transseksualime mungkin terbukti tidak tepat jika sudah bisa dibuktikan bahwa seorang transseksual lelaki yang normal secara anatomis boleh jadi sesungguhnya seorang perempuan genetic, atau setidaknya bukan seorang lelaki yang normal secara genetik. Dalam konteks ini, kita akan berhubungan dengan hasrat transgenital yang bukan transseksual.”  - Harry Benjamin 1966. The Transsexual Phenomenon.
(Etiologi Transseksualisme)

Pada kenyataannya, apa yang dimaksud dengan “transgenital” oleh Benjamin mengacu pada sebuah bentuk interseksualitas dan riset terbaru (Vilain, 2003) menunjuk perbedaan genetik yang dipaparkan oleh Benjamin bertahun-tahun yang lalu. (Kruijver et al., 2000).  Namun demikian, perbedaan seksual-neurologisnya sudah merupakan penanda biologis dalam diri orang yang terlahir dengan kondisi ini dan itu juga merupakan indikasi dari keinterseksualan sindroma tersebut. (Kruijver et al., 2000) Tambahan pula, sejak pertama kali Transseksualisme dipandang sebagai kondisi intersex, kondisi ini (Transseksualisme)  serta kata turunannya (transseksual, kelompok transseksual) sama sekali tidak valid lagi untuk menjelaskan kondisi sehingga butuh untuk segera diganti.
    

Jika kita melihat kata “transseksual” di dalam kamus, akan kita temukan definisi berikut ini sebagai artinya: “seseorang yang telah menjalani operasi ganti kelamin”, atau “seseorang yang identifikasi seksualnya secara keseluruhan adalah lawan jenisnya”, atau malahan didefinisikan “amat sanagt menginginkan, atau mengidentitikasi diri sepenuhnya, sebagai lawan jenis” apabila kita menggunakan kata tersebut sebagai kata sifat.  Namun, tak satupun dari definisi itu yang berlaku untuk kasus mereka yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome. Sehingga, dengan demikian, mereka yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome BUKANLAH transsexual. Setidak-tidaknya, tidak dalam definisi resmi yang kaku. Maka, orang-orang yang terlahir dengan Harry Benjamin's Syndrome hanyalah orang-orang dengan Harry Benjamin's Syndrome, titik.

Kebanyakan mereka yang hidup dengan Harry Benjamin’s Syndrome mendapati bahwa istilah transseksual justru terlalu aneh dan menimbulkan rasa tidak nyaman untuk digunakan sekarang ini. Demikian pula halnya bagi orang lain yang menggunakannya untuk menyebut mereka begitu, sehingga –sejalan dengan waktu– tampak bahwa istilah kuno dan lemah ini sungguh tidak mencerminkan masa depan, kecuali jika itu digunakan dalam ilmu hewan (zoologi). 

c.  “Transseksualitas”

Terdapat stigma berat yang dihubungkan dengan Transseksualitas: Ini dianggap sebuah “pilihan gaya hidup” bagi banyak orang atau bahkan semacam “ekspansi” dari kepribadian seseorang, dan istilah “transeksualitas” sendiri bahkan makin memperkuat stigma yang sudah mendarah-daging dalam penyebutan Harry Benjamin’s Syndrome. Itulah mengapa penemuan penanda bilogis bagi sindroma ini –yang sejalan dengan peristilahan yang digunakan– menjadi sangat memerdekakan.  Transseksualitas merupakan suatu gejala alamiah di dalam dunia binatang dan di ranah itulah tempat yang cocok untuk berbicara mengenai transseksualitas atau transseksual. Namun, penggunaan istilah yang sama tentulah sangat tidak pada tempatnya jika ditujukan bagi manusia, bagi orang: Secara sederhana, karena manusia bukanlah hewan amfibi, yang berganti kelamin secara terus-menerus dalam cara yang “alamiah” dan oleh karenanya hal itu bukanlah sebuah pilihan yang diambil oleh penderitanya. Orang-orang yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome tidak mengganti kelaminnya; mereka tidak mengubah diri menjadi lawan jenisnya.  Mereka adalah orang-orang yang seks-nya telah terbentuk oleh struktur otaknya, yang memang demikianlah seharusnya, dan itu bukanlah “diubah”.



d.  “Kekacauan Identitas Gender (GID = Gender Identity Disorder)”  

Istilah-istilah umum lain yaitu "Gender Identity Disorder" (GID) atau "Gender Dysphoria" mengidentifikasi Harry Benjamin’s Syndrome sebagai suatu kondisi sakit mental walaupun kedengarannya cocok secara klinis. Ini sama sekali bukanlah inti permasalahannya. Harry Benjamin’s Syndrome semata-mata murni merupakan masalah fisik (tentu saja dengan mengesampingkan masalah sosial serta efek kejiwaan yang diakibatkan oleh kecacatan fisik yang diderita), dan tentu saja hanya bisa ditangani dengan “mereparasi”/membetulkan tubuh yang ada.  Evaluasi psikiatri memang sangat membantu dalam mendiagnosa sindroma ini akan tetapi upaya-upaya untuk mengubah gender penderitanya supaya sesuai dengan tubuhnya telah selalu terbukti gagal total. Mengimplikasikan secara keliru bahwa orang-orang dengan Harry Benjamin’s Syndrome mengidap sakit mental atau mengalami delusi (waham) bukanlah cara yang benar untuk memahami dan menerima kondisi ini.


e.  "Transgender"


"Transgender" belakangan ini telah menjadi sedemikian populer sebagai istilah yang mencoba memayungi semua kondisi bagi bermacam-ragam kelompok yang berbeda secara ekstrem, khususnya di antara komunitas queer.  Ini bukanlah perkembangan yang positif karena istilah ini terlalu luas cakupannya sebagai sebuah kategori untuk mengatakan sesuatu hal yang berguna, dan mengimplikasikan adanya kesamaan yang sama sekali tidak ada. Ini hampir sama dengan menyebutkan: “Bermain Catur, Asia, atau mengidap Kanker” –menggunakan kata-kata seperti ini untuk menggambarkan seseorang tidaklah menjelaskan apa-apa tentang dirinya.


f.  “
Operasi Rekostruksi Kelamin” (Genital Reconstructive Surgery = GRS)

Sama saja, istilah "Genital Reconstructive Surgery" (GRS) lebih disukai sebagai alternatif dari "Sex Reassignment Surgery" (SRS = Operasi Penyesuaian Kelamin) atau "Gender Reassignment Surgery" (Operasi Penyesuaian Gender) untuk menggambarkan operasi yang dilakukan untuk menolong mengoreksi anatomi orang-orang dengan Harry Benjamin’s Syndrome. Pastinya, tak ada penyesuaian gender yang terlibat; operasi tersebut hanyalah melibatkan aspek seks fisik, yang tidak bersifat memilih ini atau itu. Seks otak yang bersangkutan memang sudah sebagaimana adanya begitu dan HRT (Hormone Replacement Therapy = Terapi Sulih Hormon) akan mengoreksi karakteristik seksual lainnya.  Bagi yang laki-laki, HRT(=TSH) bahkan dapat sedikit lebih jauh mengoreksi genitalianya walaupun tentu saja tak dapat secara sempurna mendekati perkembangan seperti jika itu terjadi ketika di dalam kandungan ibu.


Ada istilah-istilah lain untuk Harry Benjamin’s Syndrome yang juga digunakan tetapi kebanyakan bersifat peyoratif atau lemah sehingga tidak layak disebutkan di sini.


Oleh: Charlotte T.GA. dan Melanie l'Heuremaudit
Diterjemahkan oleh: Prabha Mahojjwala 
Hak Cipta Terjemahan © I/2012 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar