PENTING !

Harry Benjamin's Syndrome sesuai dengan peraturan standar internasional, harus dinyatakan oleh 2 orang psikiater atau 1 orang psikiater dengan 1 orang dokter. Tidak ada Jalan Pintas dalam berjalan dengan Harry Benjamin's Syndrome. Untuk bergabung dengan Support Grup dan mengetahui para ahli-ahli medis yang kami rekomendasikan, anda dapat menghubungi kami lewat Email : HBS.Indonesia@gmail.com.

Selasa, 10 Januari 2012

Harry Benjamin’s Syndrome (Sindroma Harry Benjamin)

Apakah Harry Benjamin’s Syndrome itu?
Harry Benjamin’s Syndrome (HBS) adalah kondisi intersex bawaan yang berkembang sebelum kelahiran yang menyangkut pembedaan antara lelaki dan perempuan. Diyakini bahwa 1 di antara 500 bayi terlahir dengan kondisi ini. Artinya, seorang anak perempuan dengan Harry Benjamin’s Syndrome memiliki “brain sex” perempuan tetapi alat kelaminnya tampak sebagai alat kelamin laki-laki. Sebaliknya, anak lelaki yang terlahir dengan kondisi ini memiliki “brain sex” laki-laki meskipun genitalianya perempuan. Selama ini, masih belum dimungkinkan untuk mendiagnosa kondisi ini pada saat kelahiran sehingga hal ini menyebabkan bayi-bayi dengan kondisi ini dibesarkan dan dididik dengan peran gender yang keliru.
Jelaslah sekarang bahwa otaklah satu-satunya bagian tubuh yang dapat mendefinisikan jenis kelamin seseorang; sehingga, jenis kelamin seseorang yang sesungguhnya ditentukan oleh struktur otaknya dan bukan oleh alat kelaminnya. Oleh karena itu, identitas gender sudah terikat kuat di dalam otak dan di dalam struktur CNS yang lebih dalam. Perbedaan utama antara Harry Benjamin’s Syndrome dan kondisi-kondisi intersex lainnya terletak pada tak adanya bukti fisik pada saat bayi dilahirkan sehingga hal ini menyulitkan para dokter untuk mendiagnosanya. 
Dibandingkan dengan kondisi-kondisi intersex lainnya, Harry Benjamin’s Syndrome 2 (dua) kali lebih sering muncul daripada Klinefelter Syndrome dan 5 (lima) kali lebih sering daripada Turner’s Syndrome. Juga diketahui bahwa kasus ini 25 kali lebih banyak daripada Androgen Insensitivity Syndrome (AIS = Sindroma Ketidaksensitivan Androgen).
Kebanyakan orang yang menderita Harry Benjamin’s Syndrome didiagnosa pada usia sekitar 20 sampai 45 tahun. Namun hal ini tak menghentikan mereka dari upaya untuk menjalani operasi penegasan kelamin dan kemudian menjalani kehidupan mereka secara normal. Di sisi lain, ada pula para penderita yang lebih memilih untuk tidak melakukan operasi dan mampu hidup sama bahagianya dengan yang melakukan operasi. Akan tetapi, sangat disarankan agar kondisi ini ditangani sedini mungkin.
Tingkat stress yang dialami oleh orang-orang yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome bervariasi dari orang per orang. Tuntutan harapan terkait peran gender oleh masyarakat tak selalu bisa terpenuhi secara sempurna oleh semua orang, dan tak setiap orang mendapati perlakuan sebagai orang dengan gender yang berlawanan sedemikian parahnya. Tingkat kepedulian terhadap penampakan dan anatomi tubuh mereka pun juga beragam –sebagian dapat mengabaikan apa yang mereka miliki di antara selangkangan mereka atau bagaimana mereka merasakan gender mereka. Bagaimanapun juga, ini sangatlah wajar –juga mungkin jauh lebih umum- bagi orang untuk menempatkan kepentingan besarnya, baik terkait dengan fisik serta peran gender sosial yang mereka miliki maupun yang dimiliki oleh orang lain, sehingga mereka “terpaksa” menyesuaikan diri dengan kemauan masyarakat. Mungkin ini merupakan sesuatu yang mereka pikir memang sudah semestinya demikian dan hampir tak perlu memikirkannya lagi. Namun, inilah yang justru merupakan indikasi betapa sudah sangat dalam mengakarnya tuntutan masyarakat yang tak selalu bisa mereka penuhi. Orang-orang dengan Harry Benjamin’s Syndrome hampir selalu mengalami kekecewaan dan ketidak-bahagiaan yang menumpuk terhadap tubuh maupun peran sosial gender mereka hingga mereka mampu mengoreksinya, bahkan sampai pada titik mereka lebih memilih bunuh diri jika mereka rasa sudah tak ada solusi lagi bagi permasalahan mereka.
Penderitaan hidup orang-orang yang terlahir dengan Harry Benjamin’s Syndrome diperparah oleh sikap masyarakat dalam menghadapi kondisi ini. Majikan atau tempat kerja, teman-teman, dan khususnya keluarga sering tidak percaya dan bersikap memusuhi mereka yang menyatakan diri bahwa mereka menderita Harry Benjamin’s Syndrome. Ditambah lagi, masyarakat secara umum tidak memperlakukan dengan baik mereka yang penampakan gendernya ambigu (tak jelas) dan malahan menjadikan mereka sasaran caci-maki, diskriminasi dan kekerasan fisik. Hal ini tentu saja berat untuk dihadapi di mana seringkali disertai dengan hilangnya dukungan keluarga dan mungkin juga hilangnya pekerjaan. Walaupun penyebab Harry Benjamin’s Syndrome belum bisa dipastikan, dan memang, mungkin terdapat lebih dari satu penyebab; penjelasan yang paling memungkinkan adalah adanya beberapa jenis ketidak-beresan hormonal selama masa kehamilan ibu. Bagaimanapun juga, apapun penyebabnya, kondisi ini adalah kondisi traumatik asli yang pantas memperoleh pemahaman serta perhatian.

Bagaimana Harry Benjamin’s Syndrome ditangani secara medis?
 Catatan: Situs ini hanya berisi penjelasan singkat tentang aspek lain terkait dengan penanganan yang ada bagi orang-orang yang terlahir dengan kondisi Harry Benjamin’s Syndrome. Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang hal ini, laman berikut merupakan awal yang bagus: How is MtF transsexualism medically treated? (Bagaimana Transseksual MtF ditangani secara medis?)
Penanganan dini terhadap kondisi Harry Benjamin’s Syndrome sebetulnya dapat menghapuskan seluruh gejala kondisi ini.
Untuk secara tepat menegaskan kembali tubuh orang yang menderita kondisi ini ke gendernya yang tepat, penanganan akan mencakup Terapi Sulih Hormon (HRT = Hormonal Replacement Therapy) dan Operasi Rekonstruksi Kelamin (GRS = Genital Reconstructive Surgery).
Sampai saat ini, Sindroma ini kebanyakan dikenal sebagai Transseksualisme. Peristilahan ini menimbulkan masalah dalam pendiagnosaan dan penanganan orang-orang yang hidup atau terlahir dengan kondisi ini. Kata “transseksualisme” biasanya dikaitkan dengan laki-laki yang ingin menjadi perempuan atau tampak sebagai kekacauan mental. Kita masih bisa menemukan dokter-dokter yang menunjuk Sindroma ini sebagai Transseksualisme. Nampak bahwa komunitas medis mengabaikan riset paling mutakhir tentang otak dan hubungannya dengan gender. Hal ini disebabkan oleh penggunaan istilah-istilah using yang tak hilang-hilang semacam “transseksualitas”, “transseksualisme” dan lain-lain.
Komunitas kedokteran dewasa ini sudah sepenuhnya siap untuk menangani kondisi Harry Benjamin’s Syndrome secara sukses. Namun sebagian besar dari kelompok dokter ini masih kurang dalam pendiagnosaan yang berkualitas yang disebabkan oleh kurangnya informasi terbaru tentang kondisi ini, sehingga para dokter tersebut masih terjebak dalam mitos dan praduga lama.
Saran pribadi terkait dengan para dokter ini adalah bahwa sebaiknya Anda jangan mempercayai atau menelan mentah-mentah segala sesuatu yang mereka katakan karena mungkin mereka tidak memiliki informasi terbaru. Kami merekomendasikan agar Anda tetap mendengarkan para dokter (karena mereka tahu bagaimana sistem kerja tubuh manusia) akan tetapi jangan berasumsi atau membuat dugaan bahwa para dokter tak dapat membuat kesalahan; karena, bagaimana pun juga, mereka tetap hanyalah manusia.
Disarankan agar Anda mengunjungi ahli endokrin dan memberinya informasi terbaru tentang Harry Benjamin’s Syndrome. Dengan cara ini Anda akan membuka pintu untuk menerima penanganan objektif.
Tindak lanjut psikologis sangatlah berguna untuk diagnosa yang tepat bagi kondisi ini, dan selanjutnya penanganan fisik dapat sepenuhnya mengoreksinya.
Dalam banyak kasus, tak mungkin memberikan diagnosa sebelum masa akhir balita atau pra-remaja walaupun negara-negara seperti Belanda sudah sangat maju dalam pendiagnosaan dan penanganan sindroma ini.
Kita patut berterima kasih kepada Prof. Cohen-Kettenis sehingga orang-orang yang menderita kondisi ini di Belanda dapat memulai perawatan sebelum masa puber.
Di Spanyol, hanya Rumah Sakit Andalusia yang dapat memberikan penanganan lengkap untuk kondisi ini walaupun ada banyak dokter spesialis di banyak komunitas. Ada bagusnya juga untuk menghubungi atau meminta informasi kepada kelompok LGBTIQ setempat.
Penting sekali diingat bahwa Harry Benjamin’s Syndrome adalah kondisi fisiologis dan bukan psikiatris meskipun bantuan seorang psikiater atau psikolog dapat sangat berguna bagi pasien –khususnya bagi mereka yang masih muda. Penanganan kondisi ini mencakup HRT (Terapi Sulih Hormon) dan GRS (Operasi Penegasa Kelamin). Anda sebaiknya selalu memulainya dengan mengunjungi seorang dokter ahli endokrin dan seorang dokter bedah lebih dulu. 



Oleh: Charlotte T.GA. dan Melanie l'Heuremaudit
Diterjemahkan oleh: Prabha Mahojjwala 
Hak Cipta Terjemahan © XI/2011 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar